BAB I
PENDAHULUAN
PERANAN ORANG TUA TERHADAP MOTIVASI
ANAK TENTANG
PENGALAMAN AGAMA
A. Latar Belakang Masalah
Islam adalah
agama yang sempurna dan telah disempurnakan.[1] Yang
ajarannya meliputi aqidah, ibadah, akhlak, dan syari’ah, sehingga umat yang
menganutnya akan terjamin kebahagiaan baik didunia dan diakhirat jika mau
melaksanakan ajaran-ajaran Islam ini pun sudah termasuk ibadah, jika diniatkan
ikhlas karena Allah SWT. Ibadah adalah tali yang menghubungkan antara hamba dan
pencipta Nya, dan pergaulan adalah tali yang menghubungkan antara sesama
ciptaan Nya, sedangkan diantara keduanya erat hubungannya dengan akhlak. Didalam tata pergaulan terdapat bermacam-macam tata
aturan dan kewajiban baik yang dibedakan menurut tingkatan usia maupun menurut
jenis kelamin. Untuk biasa bergaul dalam
berbagai macam pergaulan tersebut, maka akhlak islamiyah sangat diperlukan agar
dapat terwujud ukhuwah islamiyah yang baik. Disamping itu melaksanakan ajaran
Islam dalam kehidupan sehari-hari menyebabkan umatnya menjadi tentram sebab
hati mereka selalu mengingat Allah SWT, yang kemudian diwujudkan dalam
kehidupan nyata.
Oleh
karena itu ibadah sholat fardhu yang lima waktu
yang diperintahkan Allah SWT atas umat Islam seluruhnya baik diwaktu sehat
maupun sakit, sebab sholat itu merupakan dasar dan fondasi keimanan seseorang
lebih dari itu dengan sholat juga mencegah manusia dari perbuatan keji dan
mungkar, jika dikerjakan secara rutin dn benar sebagaimana dikatakan oleh
Maulana Muhammad Ali, bahwa “menjalankan sholat itu dimaksudkan untuk
membebaskan manusia dari kejahatan”.[2] Disamping ibadah, maka bidang akhlak juga merupakan bagian yang sangat
penting untuk diperhatikan dan diamalkan. Terlebih bagi manusia yang memiliki
jaringan yang luas, baik hubungan dalam hubungan dengan khalik, maupun terhadap
sesama makhluk, ataupun dalam hubungan dengan sesama manusia. Untuk mewujudkan
ukhuwah islamiyah yang baik ini maka manusia harus memiliki sifat-sifat yang mulia yaitu: rasa hormat,
taat, patuh terhadap yang lebih tua, rasa ikhlas dalam tolong menolong,
berkurban untuk kepentingan umum dengan menyisihkan kepentingan pribadi, saling
cinta, setia kawan yang didasarkan atas kebenaran dan lapang dada.
Sebagaimana pengertian anak usia (7-12) tahun
mempunyai pengalaman agama yang bebas di bangku SD yaitu 7-12 tahun pengalaman
dan rasa keagamaan demikian banyak macam dan ragamnya. Pergaulan mereka dan
teman-temannya banyak perhatiannya terhadap agama juga dipengaruhi oleh
teman-temannya[3]. Sementara perlu
kita ketahui bahwa kepercayaan anak
terhadap Allah pada umur permulaan masa sekolah (SD) itu bukanlah bahwa
kepercayaan berupa keyakinan hasil
pemikirannya sendiri, akan tetapi merupakan sikap emosi yang membutuhkan
pelindung. Hubungan dengan Tuhan
sifatnya individual dan emosional. Oleh karena itu ditonjolkan sifat pengasih
dan peyayang Tuhan kepada si anak dan jangan
dulu dibicarakan mengenai sifat Tuhan yang menghukum, membalas dengan
neraka dan sebagainya. Dengan anak
mengenal dan mempercayai adanya kekuasaan Tuhan maka mereka mulai memperoleh
sikap yang lebih matang terhadap agama. Pengalaman masa mendekati kematangan
yang demikian itulah merurut Crow and Crow akan mengembangkan rasa kedamaian,
kebahagiaan yang tidak ternilai.[4]
Pendidikan merupakan usaha sadar bertujuan, yaitu
menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan juga
latihan bagi peranan dimasa yang akan datang. Pendidikan memperhatikan
perkembangan selalu pribadi anak, hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan
nasional kita yaitu:
“Mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa
terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan
ketrampilan, kesehatan jasmani serta tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.”[5] Erat kaitannya dengan pendidikan disekolah adalah motivasi, karena
motivasi merupakan daya pendorong yang menggerakkan seseorang untuk bertindak
dalam pencapaian suatu tujuan. Begitu pula motivasi sangat penting bagi anak
dalam menempuh pendidikkannya juga dalam tempat belajarnya.
B. Fokus Penelitian
Dari latar belakang masalah yang
dikemukakan, maka dapat diajukan identifikasi masalahnya antara lain :
1. Faktor
lingkungan, baik teman-teman maupun media tempat tumbuh dan berkembangnya
anak didik.
2. Faktor
orangtua yang menjadi pemeran utama dalam memberikan contoh motivasi keagamaan yang baik dalam kehidupan sang anak.
3. Faktor
pendidik atau guru, karena biasanya anak lebih mempercayai apa yang diajarkan oleh gurunya dibanding
dengan orangtuanya.
C. Perumusan
Masalah
Berdasarkan pada latar belakang diatas, maka penulis
mengungkapan rumusan masalah yang dapat menjadi acuan dalam pembahasan
berikutnya. Diantara pokok masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana peranan orang tua
dalam memotivasi anak melakukan
pengalaman beragama?
2. Bagaimana hambatan orang tua demi motivasi anak melakukan pengalaman beragama?
D. Tujuan
Penelitian
1. Untuk mengetahui bagaimana
peranan orang tua memotivasi anaknya untuk mendapatkan pengalaman beragama.
2. Untuk mengetahui bagaimana
anaak memotivasi dirinya mendapatkan pengalaman beragama.
E. Manfaat Penelitian
1. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan alternatif dalam memotivasi
anak dalam mendapatkan pengalaman
agama.
2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi Ilmu Pengetahuan ditinjau dari segi psikologi anak.
[1] Al
Qur’an dan terjemahan ,Jakarta ,
Depag RI 1999, hal 157
[2] Maulana
Muhammad Ali, Islamologi, R Kealam HM
Bachrun, Jakarta ,
PT Iktiar Baru Vanbeur, 1980, hal 275
[3] Zakiyah
Drajat, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta ,
Bulan Bintang,1979, hal 135
[4] HM.
Arifin, Pokok-Pokok Pikiran tentang
Bimbingan Penyuluhan Agama, Jakarta ,
Bulan Bintang 1979, hal 62
[5]
Undang-undang RI No 2 tahun 1989, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Semarang , Aneka Ilmu,
1989, hal 4