Halaman

Senin, 21 November 2011

BAB I PENDAHULUAN


BAB I
PENDAHULUAN

PERANAN ORANG TUA TERHADAP MOTIVASI ANAK TENTANG 
PENGALAMAN AGAMA

A. Latar Belakang Masalah

Islam adalah  agama yang sempurna dan telah disempurnakan.[1] Yang ajarannya meliputi aqidah, ibadah, akhlak, dan syari’ah, sehingga umat yang menganutnya akan terjamin kebahagiaan baik didunia dan diakhirat jika mau melaksanakan ajaran-ajaran Islam ini pun sudah termasuk ibadah, jika diniatkan ikhlas karena Allah SWT. Ibadah adalah tali yang menghubungkan antara hamba dan pencipta Nya, dan pergaulan adalah tali yang menghubungkan antara sesama ciptaan Nya, sedangkan diantara keduanya erat hubungannya dengan akhlak. Didalam tata pergaulan terdapat bermacam-macam tata aturan dan kewajiban baik yang dibedakan menurut tingkatan usia maupun menurut jenis kelamin. Untuk biasa bergaul dalam berbagai macam pergaulan tersebut, maka akhlak islamiyah sangat diperlukan agar dapat terwujud ukhuwah islamiyah yang baik. Disamping itu melaksanakan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari menyebabkan umatnya menjadi tentram sebab hati mereka selalu mengingat Allah SWT, yang kemudian diwujudkan dalam kehidupan nyata.
            Oleh karena itu ibadah sholat fardhu yang lima waktu yang diperintahkan Allah SWT atas umat Islam seluruhnya baik diwaktu sehat maupun sakit, sebab sholat itu merupakan dasar dan fondasi keimanan seseorang lebih dari itu dengan sholat juga mencegah manusia dari perbuatan keji dan mungkar, jika dikerjakan secara rutin dn benar sebagaimana dikatakan oleh Maulana Muhammad Ali, bahwa “menjalankan sholat itu dimaksudkan untuk membebaskan manusia dari kejahatan”.[2] Disamping ibadah, maka bidang akhlak juga merupakan bagian yang sangat penting untuk diperhatikan dan diamalkan. Terlebih bagi manusia yang memiliki jaringan yang luas, baik hubungan dalam hubungan dengan khalik, maupun terhadap sesama makhluk, ataupun dalam hubungan dengan sesama manusia. Untuk mewujudkan ukhuwah islamiyah yang baik ini maka manusia harus memiliki  sifat-sifat yang mulia yaitu: rasa hormat, taat, patuh terhadap yang lebih tua, rasa ikhlas dalam tolong menolong, berkurban untuk kepentingan umum dengan menyisihkan kepentingan pribadi, saling cinta, setia kawan yang didasarkan atas kebenaran dan lapang dada.
Sebagaimana pengertian anak usia (7-12) tahun mempunyai pengalaman agama yang bebas di bangku SD yaitu 7-12 tahun pengalaman dan rasa keagamaan demikian banyak macam dan ragamnya. Pergaulan mereka dan teman-temannya banyak perhatiannya terhadap agama juga dipengaruhi oleh teman-temannya[3]. Sementara perlu kita ketahui bahwa kepercayaan  anak terhadap Allah pada umur permulaan masa sekolah (SD) itu bukanlah bahwa kepercayaan  berupa keyakinan hasil pemikirannya sendiri, akan tetapi merupakan sikap emosi yang membutuhkan pelindung. Hubungan dengan Tuhan sifatnya individual dan emosional. Oleh karena itu ditonjolkan sifat pengasih dan peyayang Tuhan kepada si anak dan jangan  dulu dibicarakan mengenai sifat Tuhan yang menghukum, membalas dengan neraka dan  sebagainya. Dengan anak mengenal dan mempercayai adanya kekuasaan Tuhan maka mereka mulai memperoleh sikap yang lebih matang terhadap agama. Pengalaman masa mendekati kematangan yang demikian itulah merurut Crow and Crow akan mengembangkan rasa kedamaian, kebahagiaan yang tidak ternilai.[4]
Pendidikan merupakan usaha sadar bertujuan, yaitu menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran dan juga latihan bagi peranan dimasa yang akan datang. Pendidikan memperhatikan perkembangan selalu pribadi anak, hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan nasional kita yaitu: “Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia seutuhnya yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani serta tanggung jawab kemasyarakatan  dan kebangsaan.”[5] Erat kaitannya dengan pendidikan disekolah adalah motivasi, karena motivasi merupakan daya pendorong yang menggerakkan seseorang untuk bertindak dalam pencapaian suatu tujuan. Begitu pula motivasi sangat penting bagi anak dalam menempuh pendidikkannya juga dalam tempat belajarnya.

B. Fokus Penelitian
            Dari latar belakang masalah yang dikemukakan, maka dapat diajukan identifikasi masalahnya antara lain :
1.         Faktor lingkungan, baik teman-teman maupun media tempat tumbuh dan berkembangnya anak didik.
2.         Faktor orangtua yang menjadi pemeran utama dalam memberikan contoh motivasi keagamaan yang baik dalam kehidupan sang anak.
3.         Faktor pendidik atau guru, karena biasanya anak lebih mempercayai apa yang diajarkan oleh gurunya dibanding dengan orangtuanya.

C. Perumusan Masalah
Berdasarkan pada latar belakang diatas, maka penulis mengungkapan rumusan masalah yang dapat menjadi acuan dalam pembahasan berikutnya. Diantara pokok masalah tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana peranan orang tua dalam memotivasi anak  melakukan pengalaman   beragama?
2.      Bagaimana  hambatan orang tua demi motivasi anak  melakukan pengalaman  beragama?

D. Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui bagaimana peranan orang tua memotivasi anaknya untuk mendapatkan pengalaman beragama.
2.      Untuk mengetahui bagaimana anaak memotivasi dirinya mendapatkan pengalaman beragama.

E. Manfaat Penelitian
1.      Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan alternatif dalam memotivasi anak dalam mendapatkan   pengalaman agama.
2.      Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi Ilmu             Pengetahuan ditinjau  dari segi psikologi anak.


[1] Al Qur’an dan terjemahan ,Jakarta, Depag RI 1999, hal 157
[2] Maulana Muhammad Ali, Islamologi, R Kealam HM Bachrun, Jakarta, PT Iktiar Baru Vanbeur, 1980, hal 275
[3] Zakiyah Drajat, Ilmu Jiwa Agama, Jakarta, Bulan Bintang,1979, hal 135
[4] HM. Arifin, Pokok-Pokok  Pikiran tentang Bimbingan Penyuluhan Agama, Jakarta, Bulan Bintang 1979, hal 62
[5] Undang-undang RI No 2 tahun 1989, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Semarang , Aneka Ilmu, 1989, hal 4